Tapak Pergerakan Sang Penganjur KH. Mas Mansur, Pribadi Ulama yang Santun dan Sederhana

2008 September 22
by Badrut Tamam Gaffas
KH Mas Mansur merupakan pribadi teladan yang istimewa bagi saya, sejak kecil saya sudah biasa mendengar kisah-kisah heroik dan perjuangan dakwah Kiai sederhana asal Surabaya ini, almarhumah Ibu saya seringkali dengan bersemangat menceritakan penggalan – penggalan riwayat KH Mas Mansur. sampai-sampai sewaktu kecil saya lebih suka dipanggil ‘mansur’ dan justru marah manakala dipanggil nama saya yang sebenarnya, entahlah mengapa bisa demikian yang pasti sosok KH Mas Mansur telah membuka jalan ketertarikan bagi saya untuk mempelajari jalan panjang pergerakan bangsa beserta tokoh – tokohnya.

Cerita yang menarik adalah tentang semangat belajar KH Mas Mansur yang tinggi, Beliau begitu haus akan ilmu sehingga dengan rajin dan tekun menuntut ilmu hingga sukses merampungkan M3 (Madura, Makkah dan Mesir), beliau juga harus berkali-kali hijrah (Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta) sebagai konsekuensi dari jalur pergerakan yang ditempuhnya. Beliau, KH Mas Mansur termasuk dalam Keluarga Besar Sagipodin (Bani Gipo) yang dikenal memiliki akar yang kuat di kalangan Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama, Kedua Cucu Sagipodin yakni KH Mas Mansur dan KH. Hasan Basri (Hasan Gipo) merupakan dua tokoh penting dalam pertumbuhan Muhammadiyah dan NU, yang seorang dipercaya sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah sementara yang seorang lagi mendapat amanat sebagai Ketua Tanfidziyah NU Pertama.
Satu lagi catatan penting yang jarang diungkapkan oleh media adalah ihwal wafatnya KH Mas Mansur dalam tahanan NICA pada tahun 1946, ternyata KH Mas Mansur tidak mengalami penahanan biasa melainkan di eksekusi mati dengan disuntik darah kera sehingga akhirnya wafat dalam tahanan pada tanggal 25 April 1946. KH Mas Mansur dengan kehalusan dakwah dan pribadinya yang sederhana begitu dihormati oleh Bung Karno. Dalam beberapa suratnya di Pengasingan Bung Karno menanyakan beberapa soal-soal agama kepada Mas Mansur, bahkan konon KH Mas Mansur diminta secara khusus oleh Bung Karno untuk menjadi penghulu dan menikahkannya dengan Fatmawati.

Salah satu tapak dakwah KH Mas Mansur pernah saya tulis dengan tajuk “Gelora Islam Sang Sastrawan Besar Madura, Raden Musaid Werdisastro – Penulis Babad Sumenep” Sebagai ulama muda yang kharismatik Kyai Haji Mas Mansur berhasil membawakan kehalusan dakwah yang menyentuh sehingga memberi pengaruh yang luar biasa kepada pribadi Raden Musaid, beliau memilih jalan yang tidak biasa ditempuh oleh kebanyakan budayawan dan kaum adat yang mengambil jarak atas gerakan dakwah, semangatnya justru meluap – luap untuk mengikuti cara beragama yang diajarkan oleh mas mansur yang berusaha menempatkan agama dan budaya secara proporsional tanpa mengesampingkan adat / budaya yang bersendi syara’ dan berpilar kitabullah. Raden Musaid menjadi meresapi benar ajaran KH Mas Mansur, beliau secara tegas menolak dikotomi NU-Muhammadiyah, menurutnya NU-Muhammadiyah atau Ormas keagamaan lainnya sama – sama bisa menjadi jembatan pergerakan berbasis keagamaan yang bisa mengantarkan ummat menggapai pencerahan spiritual.

Demikianlah, Siapapun yang mengalami perjumpaan dengan KH Mas Mansur Insyaallah akan menanggalkan fanatisme golongan dan keormasan karena beliau yang pernah menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah (1937 – 1943) senantiasa mengajak kepada jalan-jalan persatuan menuju kebulatan tekad dan cita – cita menggapai Indonesia Merdeka. Rintisan Gerakan Kebangsaan KH Mas Mansur Nasionalisme KH Mas Mansur dapat dibuktikan dari berbagai organisasi yang dipelopori dan dibinanya yang kebanyakan menggunakan nama belakang Wathan (Tanah Air) diantaranya Lembaga Pendidikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air), Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air), Khitab al-Wathan (Mimbar Tanah Air), Madrasah Ahl al-Wathan (Keluarga Tanah Air) di Wonokromo, Far’u al-Wathan (Cabang Tanah Air) di Gresik dan Hidayah al-Wathan (Petunjuk Tanah Air) di Jombang. KH Mas Mansur sangat dekat dengan KH Abdul Wahab Hasbullah (Ulama kharismatik NU), keduanya sama-sama pernah belajar di Makkah pada Kiai Mahfudz yang berasal dari Pondok Pesantren Termas Jawa Tengah, Beliau berdua membentuk majelis diskusi yang diberi nama Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1914. Mula-mula kelompok ini mengadakan kegiatan dengan peserta yang terbatas. Tetapi berkat prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat yang diterapkan dan topik-topik yang dibicarakan mempunyai jangkauan kemasyarakatan yang luas, dalam waktu singkat kelompok ini menjadi sangat populer dan menarik perhatian di kalangan pemuda. Banyak tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu dalam forum itu untuk mendebatkan dan memecahkan permasalahan pelik yang dianggap penting. Tashwirul Afkar tidak hanya menghimpun kaum ulama pesantren. Ia juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi antar tokoh nasionalis sekaligus jembatan bagi komunikasi antara generasi muda dan generasi tua.
Dari posnya di Surabaya, kelompok ini menjalar hampir ke seluruh kota di Jawa Timur. Bahkan gaungnya sampai ke daerah-daerah lain di seluruh Jawa hingga makin kuatlah semangat dan cita – cita membebaskan tanah air dari belenggu penjajah.

Gelora Politik menuju Indonesia Merdeka

Dalam gelora pergerakan dan perpolitikan ummat Islam, Mas Mansur mengawali bergabung dalam Syarikat Islam (SI) yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto bahkan beliau dipercaya sebagai Penasehat Pengurus Besar SI. Kedekatan dengan HOS Cokroaminoto berlanjut ketika KH Mas Mansur terpilih sebagai Ketua MAIHS (Muktamar Alam Islami Far’ul Hindisj Syarqiyah) pada tahun 1926, keduanya terpilih untuk mewakili Indonesia dalam Muktamar Alam Islami sedunia di Makkah.
Pada tahun 1937, KH Mas Mansur berhasil melakukan gebrakan politik bagi ummat Islam dengan memprakarsai berdirinya Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) bersama dengan KHA Dahlan dan KH Wahab Hasbullah (Keduanya dari Nahdlatul Ulama. MIAI inilah rintisan awal yang di kemudian hari menjelma menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI) Pada Tahun 1938, Beliau memprakarsai berdirinya Partai Islam Indonesia (PII) bersama Dr. Sukiman Wiryasanjaya sebagai perimbangan atas sikap non-kooperatif dari Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Pada Tahun 1939, Terbentuk Majelis Rakyat yang dipelopori oleh GAPI (Gabungan Partai Politik Islam) dan MIAI (sebagai Federasi organisasi – organisasi Islam Indonesia) yang melancarkan tuntutan INDONESIA BERPARLEMEN kepada Pemerintah hindia belanda, pada waktu itu KH Mas Mansur terpilih secara aklamasi sebagai ketua majelis rakyat namun beliau menolak lantaran merasa masih banyak yang dianggapnya lebih siap dan mampu.

Pada Tahun 1942, Balantentara Jepang menduduki Tanah Air, KH Mas Mansur bersama beberapa tokoh terkemuka dan berpengaruh pada masa itu yaitu Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan Ki Hajar Dewantara (empat serangkai) memimpin PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), organisasi bentukan jepang yang dijadikan alat perjuangan kemerdekaan dan menjadi cikal bakal lahirnya tentara Peta (Pembela Tanah Air), BPUPKI dan PPKI Sejak tahun 1944 hingga 1945 kembali ke Surabaya dan bersama para pemuda terlibat dalam perjuangan merebut kemerdekaan Pada Tahun 1946, ditangkap oleh NICA dan dipaksa berpidato untuk menghentikan perlawanan rakyat terhadap sekutu / Inggris di Surabaya, tetapi beliau dengan tegas menolak hingga dijebloskan kedalam tahanan hingga akhirnya meninggal dunia dalam tahanan pada tanggal 25 April 1946.

Pena-pena dakwah KH Mas Mansur juga aktif menulis untuk tujuan dakwah dan pergerakan, buah pena beliau dimuat dalam media seperti majalah Suara Santri, juga Majalah Jinem yang terbit dua kali sebulan dengan menggunakan bahasa Jawa dengan huruf Arab. Kedua majalah tersebut merupakan sarana untuk menuangkan pikiran-pikirannya dan mengajak para pemuda melatih mengekspresikan pikirannya dalam bentuk tulisan. Melalui majalah itu Mas Mansur mengajak kaum muslimin untuk meninggalkan kemusyrikan dan kekolotan beliau juga pernah menjadi redaktur majalah Kawan Kita di Surabaya. Goresan pena KH Mas Mansur juga bertebaran di berbagai media lokal dan nasional seperti pada majalah siaran dan majalah kentungan di Surabaya; Penganjur dan Islam Bergerak di Yogyakarta; Panji Islam dan Pedoman Masyarakat di Medan dan Adil di Solo. Beliau juga menuliskan ide dan gagasannya dalam bentuk buku, antara lain yaitu Hadits Nabawiyah; Syarat Syahnya Nikah; Risalah Tauhid dan Syirik; dan Adab al-Bahts wa al-Munadlarah. Sebagian tulisan – tulisan KH Mas Mansur dalam berbagai media telah dihimpun dalam sebuah buku yang berjudul “Rangkaian Mutu Manikam dari Kyai Haji Mas Mansur” yang diterbitkan oleh Penyebar Ilmu dan Al Ichsan Surabaya pada tahun 1968 KH Mas Mansur juga menaruh perhatian yang besar terhadap terselenggarakannya lembaga pendidikan yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dengan ilmu agama, beliau mendirikan Madrasah Mufidah yang dikembangkan menggunakan sistem dan kurikulum mesir.

Generasi-generasi Penerus Perjuangan KH Mas Mansur

18 Tahun sepeninggal KH Mas Mansur, beliau diangkat oleh Pemerintah sebagai Pahlawan Nasional. KH Mas Mansur sebagai ulama pejuang dan aktivis pergerakan tentu memiliki kader – kader yang secara khusus dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangannya. Dua diantaranya yang bisa saya tuliskan disini adalah Raden Muhammad Saleh Werdisatro dan Ustadz Haji Abdul Kadir Muhammad.

Sekilas tentang Raden Muhammad Saleh Werdisastro

Raden Muhammad Saleh Werdisastro memulai karir sebagai pendidik selanjutnya beliau mulai menapaki berbagai karir dengan cemerlang tanpa meninggalkan panggilan jiwanya sebagai pendidik dan aktivis pergerakan. Bakat dan jiwa perjuangannya terasah sejak memimpin kepanduan Hizbul Wathon di Madura, bergabung dengan laskar hizbullah dan diangkat sebagai Komandan Batalyon PETA (Dai Dancho) Dai Yang II Yogyakarta pada tahun 1943.
Setelah PETA dibubarkan maka mulailah Karirnya sebagai politisi dengan menjabat sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) daerah Yogyakarta (1945) dan dikukuhkan sebagai anggota KNIP (1946). Karirnya sebagai pamong bersinar ketika menjabat Walikota Yogyakarta (1950), di Yogyakarta itulah beliau dipercaya sebagai anggota Tanwir Muhammadiyah Pusat dan turut pula menjadi penggagas berdirinya Universitas Gajah Mada (UGM), selanjutnya beliau menjabat Walikota Surakarta selama dua periode (1951 – 1958) dan kemudian menjabat Residen Kedu yang berkedudukan di Magelang (1959 – 1964) hingga pensiun dengan pangkat Gubernur dan Wafat pada tahun 1966, dimakamkan di Pemakaman Karangkajen Yogyakarta. R. Muhammad Saleh Werdisastro belakangan diangkat oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional.

Sekilas tentang Ust. Abdul Kadir Muhammad (Hakam
)

Ustadz Abdul Kadir Muhammad (Hakam) berasal dari Surabaya tetapi dikenal sangat memahami karakteristik orang madura dan fasih dalam berbahasa madura sehingga tidak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dalam komunitas yang berbahasa dan berbudaya madura, selain aktif berdakwah ustadz hakam juga meniti karir dari bawah di lingkungan Departemen Agama, pada pertengahan tahun lima puluhan ditugaskan sebagai kepala Kantor Urusan Agama Maluku Tenggara, sekembalinya dari tanah Maluku cita –citanya makin menguat untuk mengembangkan pendidikan yang berbasis agama, pada periode tahun enam puluhan beliau dipercaya untuk mengembangkan Pondok Pesantren Modern Panarukan dan mulai merintis pengembangan dakwah di pulau – pulau kecil di sekitar Madura, terakhir KH Abdul Kadir Muhammad menjadi Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Modern Islam (YPPMI) Pulau Kangean dan terus berdakwah hingga akhir hayatnya. Kini generasi muda sudah semakin jauh dari mengenal sosok KH Mas Mansur padahal tapak perjuangannya terbilang sangat penting dan menentukan bagi geliat pergerakan bangsa menuju Indonesia Merdeka, kini saatnya bagi kita meneladani pribadi dan tapak perjuangannya untuk diwujudkan sesuai realitas dan konteks zaman saat ini. Sekian dan Semoga Bermanfaat

(Ditulis oleh Badrut Tamam Gaffas)

Share and Enjoy:
  • Add to favorites
  • BlinkList
  • blogmarks
  • Blogosphere News
  • blogtercimlap
  • del.icio.us
  • email
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • LinkaGoGo
  • LinkedIn
  • MyShare
  • MySpace
  • PDF
  • Print
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter
  • Upnews
  • Yahoo! Buzz
One Response leave one →
  1. 2009 April 5

    You still write on here! Thanks :)

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS