Monday, September 22, 2008

Raden Musaid Werdisastro, Gelora Islam Sang Sastrawan Besar Madura


Masjid Jamik Sumenep dan Asta tinggi adalah dua buah manikam sejarah keemasan syiar Islam di Pulau Madura yang berwujud arsitektur indah dan menawan, keduanya menjadi bagian tak terpisahkan dari tingginya peradaban Islam yang terlahirkan di tanah madura berabad-abad yang silam.

R. Musaid Seorang Pejuang Budaya

Diantara rekaman sejarah tentang Pulau Madura ternyata Babad Sumenep menjadi dokumen penting yang bisa dijadikan literatur awal untuk mempelajari madura khususnya sumenep secara lebih mendalam.

Raden Musaid adalah Sastrawan Legendaris yang berjasa menulis Babad Sumenep. Awalnya penulisan tersebut dimaksudkan sebagai upaya pelurusan sejarah terutama sejarah islam di sumenep dalam bingkai dinamika hubungan antar etnik yang berlangsung damai. Dalam Babad itu digambarkan pula tumbuh kembang sebuah komunitas masyarakat berperadaban dan berperilaku elok yang disebut Bangselok.

Sebagai Budayawan dan Pejuang secara cerdik Raden Musaid berupaya mengobarkan semangat perjuangan anti penjajahan kolonial belanda melalui simbol dan kiasan yang banyak terdapat dalam Babad yang dikarangnya, buku tersebut memang ditulis menggunakan Bahasa Madura dengan Aksara Jawa sehingga praktis pihak belanda menjadi gagap dalam menangkap maksud rahasia sang penulis, sebaliknya pemerintah hindia belanda memberikan apresiasi yang tinggi dan penghargaan kepada Raden Musaid berupa sejumlah Gulden dan sebuah Gelar “WERDISASTRO” .

Sejak itulah Raden Musaid dikenal sebagai R. Musaid Werdisastro, ketika tarikh masehi menginjak 15 Pebruari 1914 Naskah Babad Sumenep tersebut naik cetak dan diterbitkan oleh Balai Pustaka sehingga anggapan Raden Musaid sebagai sastrawan lokal menjadi terbantahkan, Babad Sumenep menjadi sebuah naskah budaya yang memperkaya khazanah budaya dan sejarah bangsa.

Semangat Beragama yang menjadi Pelita

Raden Musaid yang budayawan dan cendikiawan memiliki kedekatan dengan Kyai Haji Mas Mansur yang berdarah Sumenep, dalam berbagai biografi disebutkan bahwa KH Mas Achmad Marzuki (ayahanda Mas Mansur) terhitung masih keturunan dari bangsawan Sumenep. Sebagai ulama muda yang kharismatik Kyai Haji Mas Mansur berhasil membawakan kehalusan dakwah yang menyentuh sehingga memberi pengaruh yang luarbiasa kepada pribadi Raden Musaid, beliau memilih jalan yang tidak biasa ditempuh oleh kebanyakan budayawan dan kaum adat yang mengambil jarak atas gerakan dakwah, semangatnya justru meluap – luap untuk mengikuti cara beragama yang diajarkan oleh mas mansur yang berusaha menempatkan agama dan budaya secara proporsional tanpa mengesampingkan adat / budaya yang bersendi syara’ dan berpilar kitabullah.

Raden Musaid menjadi penggerak pengembangan Muhammadiyah di Sumenep, beliau secara tegas menolak dikotomi NU-Muhammadiyah, menurutnya NU-Muhammadiyah atau Ormas keagamaan lainnya sama – sama bisa menjadi jembatan pergerakan berbasis keagamaan yang bisa mengantarkan ummat menggapai pencerahan spiritual. Dukungan untuk mengembangkan Muhammadiyah di Ujung timur Pulau Madura itu datang dari keluarga besarnya juga dari Kyai Haji Mas Mansur yang menjadi konsul Muhammadiyah Jawa Timur di Surabaya dan kemudian terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Muhammadiyah (1937 – 1943).

R. Muhammad Saleh Werdisastro, Berkarya Hingga Tutup Usia

Semangat untuk mengikuti jejak perjuangan dan pergerakan sang ayah menitis dalam jiwa Muhammad Saleh Werdisastro, salah seorang putera Raden Musaid yang pada akhirnya terkenal sebagai salah satu putera Sumenep yang mendapatkan pengakuan dari Pemerintah sebagai Pahlawan Nasional.


Muhammad Saleh Werdisastro memulai karir sebagai pendidik dan aktivis Muhammadiyah selanjutnya beliau mulai menapaki berbagai karir dengan cemerlang tanpa meninggalkan panggilan jiwanya sebagai pendidik dan aktivis pergerakan. Bakat dan jiwa perjuangannya terasah sejak memimpin kepanduan Hizbul Wathon di Madura, Karirnya sebagai prajurit bermula dengan bergabung dalam laskar hizbullah kemudian bergabung sebagai milisi PETA dan terpilih sebagai Dai Dancho (Komandan Batalyon) Dai Yang II Yogyakarta pada tahun 1943 bersama dengan beberapa tokoh lainnya seperti Soedirman (Kemudian menjadi Panglima Besar TNI), Kyai Muhammad Idris, Kyai Doeryatman, Soetaklaksana, Kasman Singodimejo, Moelyadi Djojomartono, dan lain-lain. Setelah PETA dibubarkan maka mulailah Karirnya sebagai politisi dengan menjabat sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) daerah Yogyakarta (1945) dan dikukuhkan sebagai anggota KNIP (1946).

Karirnya sebagai pamong bersinar ketika menjabat Wakil Walikota Yogyakarta (1950), di Yogyakarta itulah beliau dipercaya sebagai anggota Tanwir Muhammadiyah Pusat dan turut pula menjadi penggagas berdirinya Universitas Gajah Mada (UGM), selanjutnya beliau menjabat Walikota Surakarta selama dua periode (”1951 – 1958″) dan kemudian menjabat Residen Kedu yang berkedudukan di Magelang (1959 – 1964) hingga pensiun dengan pangkat Gubernur dan Wafat di Yogyakarta pada tahun 1966.

Pihak militer meminta jenazah Muhammad Saleh Werdisastro dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta karena almarhum adalah seorang pejuang yang memiliki Bintang Gerilya sementara pihak Muhammadiyah menolak karena Muhammad Saleh Werdisastro begitu besar jasanya kepada Muhammadiyah sehingga untuk menghormatinya, jenazah beliau dimakamkan berdampingan dengan pendiri Muhammadiyah lainnya, Kyai Haji Achmad Dahlan di pemakaman Karangkajen Yogyakarta.

Sebagaimana ayahnya yang dekat dengan Kyai Haji Mas Mansur maka R. Muhammad Saleh Werdisastro juga merasakan tempaan dari seorang Mas Mansur yang demikian berbekas sehingga nama sang guru pergerakan itupun diabadikan sebagai nama putera pertamanya Ir. R. Muhammad Mansur Werdisastro. Dalam beberapa tajuk biografi Muhammad Saleh Werdisastro tertulis “Residen Kebanggaan Muhammadyah”, tajuk itu memang tidak salah hanya perlu sedikit dikritisi bahwa kitapun perlu menyadari bahwa beliau R. Muhammad Saleh Werdisastro dalam setiap gerak perjuangannya tidak pernah mendedikasikan diri secara khusus bagi Persyarikatan Muhammadiyah melainkan perjuangannya sebagai anak bangsa bersifat menyeluruh demi meraih kemaslahatan yang bersifat universal untuk ummat, bangsa dan negara.

Ustadz Hakam , Pijar dakwah yang berpendar

Karena minimnya tenaga dakwah di Sumenep pada sekitar tahun tiga puluhan maka Raden Musaid meminta bantuan kepada Kyai Haji Mas Mansur yang segera dijawab dengan dikirimkannya beberapa tenaga dakwah yang salah satunya adalah Abdul Kadir Muhammad (AKM), salah seorang murid sekaligus keponakan KH Mas Mansur.

Abdul Kadir dibesarkan dalam lingkungan agamis yang pluralis, sang ayah KH Mas Muhammad menitipkannya untuk dididik oleh adiknya yaitu Kyai Haji Mas Mansur sementara saudara Abdul Kadir yang lain ada yang mendapatkan didikan langsung dari Hasan Gipo, Ketua Tanfidziah NU pertama.

Keluarga Besar Sagipodin (Bani Gipo) memang memiliki akar yang kuat di kalangan Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama, Kedua Cucu Sagipodin yakni KH Mas Mansur dan KH. Hasan Basri (Hasan Gipo) merupakan dua tokoh penting dalam pertumbuhan Muhammadiyah dan NU.

Di Pulau Madura, Abdul Kadir memulai berdakwah dari lingkungan keluarga besar Raden Musaid, keberadaannya cepat bisa diterima dan akrab disapa dengan sebutan “Ustadz”, beliau juga berdakwah di lingkungan Masjid Jamik Sumenep. Demikianlah Ustadz Abdul Kadir Muhammad yang ber-etnis Jawa ternyata sangat memahami karakteristik orang madura dan terbukti fasih dalam berbahasa madura sehingga tidak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dalam komunitas yang berbahasa dan berbudaya madura.

Untuk meneguhkan perjalanan dakwahnya di Sumenep maka Ustadz Hakam kemudian menikahi R. Fatimatuz Zahro yang tak lain adalah cucu R. Musaid dari Puterinya R.Ay Mariatul Kibtiyah.

Dalam menyikapi perbedaan corak keberagamaan Ustadz Hakam selalu menekankan pentingnya mencari persamaan serta memperkuat ukhuwah wathoniah diantara ummah. Seperti halnya R. Muhammad Saleh Werdisastro yang peduli terhadap pendidikan kaum pribumi maka beliau juga merancang Home Schooling serta membuat sebuah perpustakaan dengan koleksi buku – buku pribadinya yang terbilang sangat banyak untuk ukuran perpustakaan pribadi, selain aktif berdakwah ustadz hakam juga meniti karir dari bawah di lingkungan Departemen Agama, pada pertengahan tahun lima puluhan ditugaskan sebagai kepala Kantor Urusan Agama Maluku Tenggara, sekembalinya dari tanah Maluku cita –citanya makin menguat untuk mengembangkan pendidikan yang berbasis agama, pada periode tahun enam puluhan beliau dipercaya untuk mengembangkan Pondok Pesantren Modern Panarukan dan mulai merintis pengembangan dakwah di pulau – pulau kecil di sekitar Madura, terakhir KH Abdul Kadir Muhammad menjadi Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Modern Islam (YPPMI) Pulau Kangean dan terus berdakwah hingga akhir hayatnya.

Penulis perlu menggaris bawahi peran Raden Musaid yang sangat besar dalam membuka jalan bagi pengembangan dakwah Islam di Tanah Madura, selebihnya tulisan ini bersifat rintisan sehingga penulis menyadari banyaknya kekurangan atas rekaman – rekaman peristiwa dalam paparan diatas sehingga diharapkan bantuan dari berbagai pihak untuk dapat melengkapinya.

Akhirnya semoga kita bisa belajar dari catatan perjalanan hidup Raden Musaid yang Budayawan, Muhammad Saleh Werdisastro yang Birokrat dan Ustadz Hakam yang Ulama yang masing – masing sangatlah profesional di bidangnya. Kemudian yang terlintas adalah tanda tanya, bisakah kita turut mengambil bagian dalam meneruskan perjuangan dan pergerakan yang takkan bisa terpadamkan ??? Wallahu A’lam.

(Ditulis Oleh Badrut Tamam Gaffas)

 

Posted by Badrut Tamam Gaffas at 07:43:21 | Permalink | Comments (1) »

Tapak Pergerakan Sang Penganjur KH. Mas Mansur, Pribadi Ulama yang Santun dan Sederhana

KH Mas Mansur merupakan pribadi teladan yang istimewa bagi saya, sejak kecil saya sudah biasa mendengar kisah-kisah heroik dan perjuangan dakwah Kiai sederhana asal Surabaya ini, almarhumah Ibu saya seringkali dengan bersemangat menceritakan penggalan – penggalan riwayat KH Mas Mansur. sampai-sampai sewaktu kecil saya lebih suka dipanggil ‘mansur’ dan justru marah manakala dipanggil nama saya yang sebenarnya, entahlah mengapa bisa demikian yang pasti sosok KH Mas Mansur telah membuka jalan ketertarikan bagi saya untuk mempelajari jalan panjang pergerakan bangsa beserta tokoh – tokohnya.

Cerita yang menarik adalah tentang semangat belajar KH Mas Mansur yang tinggi, Beliau begitu haus akan ilmu sehingga dengan rajin dan tekun menuntut ilmu hingga sukses merampungkan M3 (Madura, Makkah dan Mesir), beliau juga harus berkali-kali hijrah (Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta) sebagai konsekuensi dari jalur pergerakan yang ditempuhnya. Beliau, KH Mas Mansur termasuk dalam Keluarga Besar Sagipodin (Bani Gipo) yang dikenal memiliki akar yang kuat di kalangan Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama, Kedua Cucu Sagipodin yakni KH Mas Mansur dan KH. Hasan Basri (Hasan Gipo) merupakan dua tokoh penting dalam pertumbuhan Muhammadiyah dan NU, yang seorang dipercaya sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah sementara yang seorang lagi mendapat amanat sebagai Ketua Tanfidziyah NU Pertama.
Satu lagi catatan penting yang jarang diungkapkan oleh media adalah ihwal wafatnya KH Mas Mansur dalam tahanan NICA pada tahun 1946, ternyata KH Mas Mansur tidak mengalami penahanan biasa melainkan di eksekusi mati dengan disuntik darah kera sehingga akhirnya wafat dalam tahanan pada tanggal 25 April 1946. KH Mas Mansur dengan kehalusan dakwah dan pribadinya yang sederhana begitu dihormati oleh Bung Karno. Dalam beberapa suratnya di Pengasingan Bung Karno menanyakan beberapa soal-soal agama kepada Mas Mansur, bahkan konon KH Mas Mansur diminta secara khusus oleh Bung Karno untuk menjadi penghulu dan menikahkannya dengan Fatmawati.

Salah satu tapak dakwah KH Mas Mansur pernah saya tulis dengan tajuk “Gelora Islam Sang Sastrawan Besar Madura, Raden Musaid Werdisastro – Penulis Babad Sumenep” Sebagai ulama muda yang kharismatik Kyai Haji Mas Mansur berhasil membawakan kehalusan dakwah yang menyentuh sehingga memberi pengaruh yang luar biasa kepada pribadi Raden Musaid, beliau memilih jalan yang tidak biasa ditempuh oleh kebanyakan budayawan dan kaum adat yang mengambil jarak atas gerakan dakwah, semangatnya justru meluap – luap untuk mengikuti cara beragama yang diajarkan oleh mas mansur yang berusaha menempatkan agama dan budaya secara proporsional tanpa mengesampingkan adat / budaya yang bersendi syara’ dan berpilar kitabullah. Raden Musaid menjadi meresapi benar ajaran KH Mas Mansur, beliau secara tegas menolak dikotomi NU-Muhammadiyah, menurutnya NU-Muhammadiyah atau Ormas keagamaan lainnya sama – sama bisa menjadi jembatan pergerakan berbasis keagamaan yang bisa mengantarkan ummat menggapai pencerahan spiritual.

Demikianlah, Siapapun yang mengalami perjumpaan dengan KH Mas Mansur Insyaallah akan menanggalkan fanatisme golongan dan keormasan karena beliau yang pernah menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah (1937 – 1943) senantiasa mengajak kepada jalan-jalan persatuan menuju kebulatan tekad dan cita – cita menggapai Indonesia Merdeka. Rintisan Gerakan Kebangsaan KH Mas Mansur Nasionalisme KH Mas Mansur dapat dibuktikan dari berbagai organisasi yang dipelopori dan dibinanya yang kebanyakan menggunakan nama belakang Wathan (Tanah Air) diantaranya Lembaga Pendidikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air), Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air), Khitab al-Wathan (Mimbar Tanah Air), Madrasah Ahl al-Wathan (Keluarga Tanah Air) di Wonokromo, Far’u al-Wathan (Cabang Tanah Air) di Gresik dan Hidayah al-Wathan (Petunjuk Tanah Air) di Jombang. KH Mas Mansur sangat dekat dengan KH Abdul Wahab Hasbullah (Ulama kharismatik NU), keduanya sama-sama pernah belajar di Makkah pada Kiai Mahfudz yang berasal dari Pondok Pesantren Termas Jawa Tengah, Beliau berdua membentuk majelis diskusi yang diberi nama Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1914. Mula-mula kelompok ini mengadakan kegiatan dengan peserta yang terbatas. Tetapi berkat prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat yang diterapkan dan topik-topik yang dibicarakan mempunyai jangkauan kemasyarakatan yang luas, dalam waktu singkat kelompok ini menjadi sangat populer dan menarik perhatian di kalangan pemuda. Banyak tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu dalam forum itu untuk mendebatkan dan memecahkan permasalahan pelik yang dianggap penting. Tashwirul Afkar tidak hanya menghimpun kaum ulama pesantren. Ia juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi antar tokoh nasionalis sekaligus jembatan bagi komunikasi antara generasi muda dan generasi tua.
Dari posnya di Surabaya, kelompok ini menjalar hampir ke seluruh kota di Jawa Timur. Bahkan gaungnya sampai ke daerah-daerah lain di seluruh Jawa hingga makin kuatlah semangat dan cita – cita membebaskan tanah air dari belenggu penjajah.

Gelora Politik menuju Indonesia Merdeka

Dalam gelora pergerakan dan perpolitikan ummat Islam, Mas Mansur mengawali bergabung dalam Syarikat Islam (SI) yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto bahkan beliau dipercaya sebagai Penasehat Pengurus Besar SI. Kedekatan dengan HOS Cokroaminoto berlanjut ketika KH Mas Mansur terpilih sebagai Ketua MAIHS (Muktamar Alam Islami Far’ul Hindisj Syarqiyah) pada tahun 1926, keduanya terpilih untuk mewakili Indonesia dalam Muktamar Alam Islami sedunia di Makkah.
Pada tahun 1937, KH Mas Mansur berhasil melakukan gebrakan politik bagi ummat Islam dengan memprakarsai berdirinya Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) bersama dengan KHA Dahlan dan KH Wahab Hasbullah (Keduanya dari Nahdlatul Ulama. MIAI inilah rintisan awal yang di kemudian hari menjelma menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI) Pada Tahun 1938, Beliau memprakarsai berdirinya Partai Islam Indonesia (PII) bersama Dr. Sukiman Wiryasanjaya sebagai perimbangan atas sikap non-kooperatif dari Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Pada Tahun 1939, Terbentuk Majelis Rakyat yang dipelopori oleh GAPI (Gabungan Partai Politik Islam) dan MIAI (sebagai Federasi organisasi – organisasi Islam Indonesia) yang melancarkan tuntutan INDONESIA BERPARLEMEN kepada Pemerintah hindia belanda, pada waktu itu KH Mas Mansur terpilih secara aklamasi sebagai ketua majelis rakyat namun beliau menolak lantaran merasa masih banyak yang dianggapnya lebih siap dan mampu.

Pada Tahun 1942, Balantentara Jepang menduduki Tanah Air, KH Mas Mansur bersama beberapa tokoh terkemuka dan berpengaruh pada masa itu yaitu Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan Ki Hajar Dewantara (empat serangkai) memimpin PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), organisasi bentukan jepang yang dijadikan alat perjuangan kemerdekaan dan menjadi cikal bakal lahirnya tentara Peta (Pembela Tanah Air), BPUPKI dan PPKI Sejak tahun 1944 hingga 1945 kembali ke Surabaya dan bersama para pemuda terlibat dalam perjuangan merebut kemerdekaan Pada Tahun 1946, ditangkap oleh NICA dan dipaksa berpidato untuk menghentikan perlawanan rakyat terhadap sekutu / Inggris di Surabaya, tetapi beliau dengan tegas menolak hingga dijebloskan kedalam tahanan hingga akhirnya meninggal dunia dalam tahanan pada tanggal 25 April 1946.

Pena-pena dakwah KH Mas Mansur juga aktif menulis untuk tujuan dakwah dan pergerakan, buah pena beliau dimuat dalam media seperti majalah Suara Santri, juga Majalah Jinem yang terbit dua kali sebulan dengan menggunakan bahasa Jawa dengan huruf Arab. Kedua majalah tersebut merupakan sarana untuk menuangkan pikiran-pikirannya dan mengajak para pemuda melatih mengekspresikan pikirannya dalam bentuk tulisan. Melalui majalah itu Mas Mansur mengajak kaum muslimin untuk meninggalkan kemusyrikan dan kekolotan beliau juga pernah menjadi redaktur majalah Kawan Kita di Surabaya. Goresan pena KH Mas Mansur juga bertebaran di berbagai media lokal dan nasional seperti pada majalah siaran dan majalah kentungan di Surabaya; Penganjur dan Islam Bergerak di Yogyakarta; Panji Islam dan Pedoman Masyarakat di Medan dan Adil di Solo. Beliau juga menuliskan ide dan gagasannya dalam bentuk buku, antara lain yaitu Hadits Nabawiyah; Syarat Syahnya Nikah; Risalah Tauhid dan Syirik; dan Adab al-Bahts wa al-Munadlarah. Sebagian tulisan – tulisan KH Mas Mansur dalam berbagai media telah dihimpun dalam sebuah buku yang berjudul “Rangkaian Mutu Manikam dari Kyai Haji Mas Mansur” yang diterbitkan oleh Penyebar Ilmu dan Al Ichsan Surabaya pada tahun 1968 KH Mas Mansur juga menaruh perhatian yang besar terhadap terselenggarakannya lembaga pendidikan yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dengan ilmu agama, beliau mendirikan Madrasah Mufidah yang dikembangkan menggunakan sistem dan kurikulum mesir.

Generasi-generasi Penerus Perjuangan KH Mas Mansur

18 Tahun sepeninggal KH Mas Mansur, beliau diangkat oleh Pemerintah sebagai Pahlawan Nasional. KH Mas Mansur sebagai ulama pejuang dan aktivis pergerakan tentu memiliki kader – kader yang secara khusus dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangannya. Dua diantaranya yang bisa saya tuliskan disini adalah Raden Muhammad Saleh Werdisatro dan Ustadz Haji Abdul Kadir Muhammad.

Sekilas tentang Raden Muhammad Saleh Werdisastro

Raden Muhammad Saleh Werdisastro memulai karir sebagai pendidik selanjutnya beliau mulai menapaki berbagai karir dengan cemerlang tanpa meninggalkan panggilan jiwanya sebagai pendidik dan aktivis pergerakan. Bakat dan jiwa perjuangannya terasah sejak memimpin kepanduan Hizbul Wathon di Madura, bergabung dengan laskar hizbullah dan diangkat sebagai Komandan Batalyon PETA (Dai Dancho) Dai Yang II Yogyakarta pada tahun 1943.
Setelah PETA dibubarkan maka mulailah Karirnya sebagai politisi dengan menjabat sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) daerah Yogyakarta (1945) dan dikukuhkan sebagai anggota KNIP (1946). Karirnya sebagai pamong bersinar ketika menjabat Walikota Yogyakarta (1950), di Yogyakarta itulah beliau dipercaya sebagai anggota Tanwir Muhammadiyah Pusat dan turut pula menjadi penggagas berdirinya Universitas Gajah Mada (UGM), selanjutnya beliau menjabat Walikota Surakarta selama dua periode (1951 – 1958) dan kemudian menjabat Residen Kedu yang berkedudukan di Magelang (1959 – 1964) hingga pensiun dengan pangkat Gubernur dan Wafat pada tahun 1966, dimakamkan di Pemakaman Karangkajen Yogyakarta. R. Muhammad Saleh Werdisastro belakangan diangkat oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional.

Sekilas tentang Ust. Abdul Kadir Muhammad (Hakam
)

Ustadz Abdul Kadir Muhammad (Hakam) berasal dari Surabaya tetapi dikenal sangat memahami karakteristik orang madura dan fasih dalam berbahasa madura sehingga tidak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dalam komunitas yang berbahasa dan berbudaya madura, selain aktif berdakwah ustadz hakam juga meniti karir dari bawah di lingkungan Departemen Agama, pada pertengahan tahun lima puluhan ditugaskan sebagai kepala Kantor Urusan Agama Maluku Tenggara, sekembalinya dari tanah Maluku cita –citanya makin menguat untuk mengembangkan pendidikan yang berbasis agama, pada periode tahun enam puluhan beliau dipercaya untuk mengembangkan Pondok Pesantren Modern Panarukan dan mulai merintis pengembangan dakwah di pulau – pulau kecil di sekitar Madura, terakhir KH Abdul Kadir Muhammad menjadi Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Modern Islam (YPPMI) Pulau Kangean dan terus berdakwah hingga akhir hayatnya. Kini generasi muda sudah semakin jauh dari mengenal sosok KH Mas Mansur padahal tapak perjuangannya terbilang sangat penting dan menentukan bagi geliat pergerakan bangsa menuju Indonesia Merdeka, kini saatnya bagi kita meneladani pribadi dan tapak perjuangannya untuk diwujudkan sesuai realitas dan konteks zaman saat ini. Sekian dan Semoga Bermanfaat

(Ditulis oleh Badrut Tamam Gaffas)

Posted by Badrut Tamam Gaffas at 06:50:43 | Permalink | Comments (1) »

Monday, July 7, 2008

Jalan Istiqomah Sang Legenda Buya Hamka

BUYA HAMKA adalah potret ulama penuh kharisma, politisi sejati dan pujangga terkemuka yang memilih berkiprah dalam perjuangan pembentukan karakter ummat dan bangsa.


Buya Hamka bukan sosok ulama istana, beliau adalah ulama pejuang yang berhasil menjadi peletak dasar kebangkitan komunitas islam modern atau kaum gedongan di ibukota lewat icon al azhar yang pada akhirnya berhasil pula melebarkan sayap sebagai lembaga pendidikan modernis dan agamis.

Sebagai politisi buya hamka patut menjadi teladan, Pandangan dan keyakinannya senantiasa lurus - lurus saja memperjuangkan aspirasi ummat, beliau bersama tokoh-tokoh Masyumi lainnya adalah para pejuang Islam yang gigih dalam mengajukan konsep-konsep Islam, secara ilmiah dan argumentatif. Tetapi, juga konsisten dalam memegang teguh aturan main secara konstitusional. Ketika perjuangan melalui jalur partai politik terganjal, buya hamka dan para tokoh Masyumi memilih hijrah dengan menempuh jalur dakwah di masyarakat, masjid, pesantren, dan perguruan tinggi. Karena sesungguhnya dakwah adalah laksana air yang mengalir, tidak boleh berhenti, dan tidak bisa dibendung.

Sikap Istiqomah menjadi garda terdepan walau harus menghadapi tangan - tangan besi kekuasaan yang terbukti berhasil menjebloskannya ke penjara.

Penjara badaniah tak sekalipun kuasa memenjarakan kebesaran jiwa seorang hamka yang tetap merdeka, sejarah pula yang akhirnya mencatat bahwa dari dalam penjara lahir karya terbesar buya hamka yang membuatnya dikenal hingga ke mancanegara, Tafsir Al Azhar adalah satu - satunya Tafsir Al Qur’an yang ditulis oleh ulama melayu dengan gaya bahasa yang khas dan mudah dicerna.

Bukan Sekedar itu karya sastra buah penanya tak kalah hebatnya, beberapa novelnya seperti Dibawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wickj , Merantau ke Deli dan banyak karya - karya beliau ternyata tidak hanya dipublikasikan oleh penerbit lokal sekelas Balai Pustaka melainkan juga diterbitkan di beberapa negara asia tenggara bahkan di release juga diberbagai situs, blog dan media informasi lainnya.

Pendek kata karya besar buya hamka saat ini telah mendunia meski ironisnya di negeri sendiri sudah jarang generasi muda yang mengenal sosoknya yang fenomenal.

Sikap Istiqomah yang dicontohkan buya hamka bisa menjadi inspirasi bagi kita, beliau bukan alumni perguruan tinggi manapun namun banyak sekali kalangan yang menuliskan di depan namanya gelar atau title Prof Dr, siapa yang bakal menyangka jika seorang yang pada awalnya belajar secara otodidak belakangan justru banyak di berikan gelar doctor honoris causa oleh banyak universitas terkemuka.

Karya - karya buya hamka terutama di bidang sastra memang telah melambungkan nama bangsa, mengharumkan nusantara hingga ke manca negara.

Simaklah petikan puisi yang dituliskannya secara khusus untuk Pak Natsir, Puisi yang ditulis Buya Hamka pada tanggal 13 November 1957 setelah mendengar uraian Pidato Natsir yang dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar negara RI.

Kepada Saudaraku M. Natsir

Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa

Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi

Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi

Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu …….!

Jalan Istiqomah yang dilalui dalam setiap jejak pergerakan dan perjuangan buya hamka untuk memajukan kaumnya merupakan rintisan yang seharusnya bisa diteruskan dari generasi ke genarasi. Benarkah ?!?!

(Review by Badrut Tamam Gaffas)

Klik untuk Download E-book Buya Hamka Sang Legenda

Posted by Badrut Tamam Gaffas at 04:48:46 | Permalink | Comments (1) »