FENOMENA TIMBANGAN RUSAK
Seorang teman mendatangi saya, menceritakan kejadiannya ketika menemani sebuah rombongan tabligh dari Jakarta, rombongan itu berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid yang lain, dari satu surau ke surau yang lain, tiada lain untuk melaksanakan aktivitasnya, pengikut rombongan itu beragam ada yang muda namun beberapa diantaranya tergolong tua, ciri khas berjubah dan penampilan yang ‘berbau timur tengah’ mungkin sekarang biasa-biasa saja di kota-kota besar namun tetap saja terasa asing bagi warga di desa terpencil seperti ditempat kami, dan menurut penuturan sang teman beberapa kali aparat kepolisian mendatangi rombongan tersebut karena berkali-kali ada laporan masyarakat yang curiga dengan keberadaan rombongan yang mereka anggap sebagai jaringannya ‘JI’…
Temanku menghela nafas panjang …Fenomena apakah ini ???
Inilah buah dari opini sesat dan menyesatkan yang direlease dan disebarkan oleh kalangan pers yang tak bertanggungjawab, ironisnya masyarakat terlanjur menyerapnya secara serta merta tanpa lebih jauh mengadakan klarifikasi… akhirnya aksi salah tudingpun menjadi hal yang tak terelakkan. Padahal bukankah sebagian dari prasangka adalah dosa ???
Buntutnya orang berjubah hendak ditanggap gara-gara menyalahi kelaziman, dan akhir-akhir ini ketidaklaziman terlanjur dialamatkan kepada “JI” …Wah tambah ruwet saja jadinya.
Ada seorang teman lain yang turut serta dalam perbincangan kami, katanya tak bisakah kita ber-islam tanpa meninggalkan ciri keindonesiaan ??? bukankah ini lebih bisa diterima ??? Ah nanti islam identik dengan Indonesia !!! kata temanku yang pertama
Lalu apakah memang islam itu identik dengan Arab ??? sanggah temanku yang kedua
Itu sih hanya masalah penampilan alias performance … jawab bang dayat mencairkan suasana, Aku pilih jalan tengah saja …”Asal menutup aurat berpenampilan bagaimanapun juga bukan masalah, OK OK saja” , itu sih hanya soal selera !?!? …
Gara-gara heboh bom bali beberapa tahun silam yang menyisakan trauma hingga saat ini, sampai-sampai preman-preman kampung yang tindak – tanduknya dari hari ke hari sangat meresahkan masyarakat masih bisa-bisanya membanggakan diri dengan menyebut dirinya masih lebih bermoral dari pelaku bom legian yang menewaskan ratusan nyawa. Kata temanku yang pertama sambil mengelus dada. Kembali ia mengulang pertanyaannya yang sama Fenomena apakah ini ???
Untung ada bang dayat yang dengan bijak menguraikan akar permasalahannya, menurutnya itu terjadi karena masyarakat sekarang sudah sangat pandai dalam hal timbang - menimbang, hanya sayangnya timbangan yang mereka gunakan adalah timbangan rusak …
Apa pula maksudnya ? Tanya temanku yang kedua. Bukankah menimbang-nimbang diri alias hisab adalah sunnah rasul yang dianjurkan ?
Betul !!! tapi ini lain, dengan timbangan rusak orang akan mengalami penurunan kualitas pasalnya ketika seseorang disoal mengapa kamu sholatnya bolong-bolong padahal shalat adalah amalan pokok yang awal mula di hisab di hari kiamat ? mereka menjawab dengan timbangan rusak bahwa itu sih lebih baik ketimbang yang sholatnya sekali seminggu (jum’atan saja) atau yang setahun dua kali (Shalat Id), yang sholatnya sekali seminggu masih bisa menjawab katanya itu masih lebih baik ketimbang yang sama sekali tidak sholat, Yang sama sekali tidak sholatpun masih merasa lebih baik alasannya ia tidak pernah berjudi atau mabuk-mabukan, yang ahli judipun masih merasa lebih baik ketimbang yang sholat tapi melakukan korupsi … alur ini semakin panjang dan panjang saja hingga menjadi sebuah siklus pembenaran, sebuah siklus yang terjadi ketika manusia telah menimbang dirinya menggunakan sebuah timbangan yang rusak.
Fenomena apakah ini ???
Begitulah realitas yang terjadi di masyarakat kita, ketika setiap orang sibuk mencari pembenaran diri dengan melemparkan kesalahan kepada orang lain, setiap orang berusaha mencuci tangan dengan tuding sana tuding sini …Mungkin inilah yang pantas disebut sebagai jagad ironi !?… Jagad goro – goro kalau dalam konteks pewayangan.
Timbangan rusak menjalar di mana – mana, ketika orang mulai bisa menerima bahwa mencari sesuatu yang haram saja susahnya minta ampun apalagi mencari sesuatu yang halal. Bahkan lebih parah lagi ada yang berpandangan bahwa tak soal menggadaikan kejujuran sepanjang tidak menggadaikan keimanan, padahal kejujuran adalah buah dari keimanan.
Fenomena apakah ini ???
Wallahu’alam. (oleh : Badrut Tamam Gaffas)


