Thursday, October 04, 2007

FENOMENA TIMBANGAN RUSAK

Fenomena apakah ini ???

Seorang teman mendatangi saya, menceritakan kejadiannya ketika menemani sebuah rombongan tabligh dari Jakarta, rombongan itu berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid yang lain, dari satu surau ke surau yang lain, tiada lain untuk melaksanakan aktivitasnya, pengikut rombongan itu beragam ada yang muda namun beberapa diantaranya tergolong tua, ciri khas berjubah dan penampilan yang ‘berbau timur tengah’ mungkin sekarang biasa-biasa saja di kota-kota besar namun tetap saja terasa asing bagi warga di desa terpencil seperti ditempat kami, dan menurut penuturan sang teman beberapa kali aparat kepolisian mendatangi rombongan tersebut karena berkali-kali ada laporan masyarakat yang curiga dengan keberadaan rombongan yang mereka anggap sebagai jaringannya ‘JI’…

 

Temanku menghela nafas panjang …Fenomena apakah ini ???

Inilah buah dari opini sesat dan menyesatkan yang direlease dan disebarkan oleh kalangan pers yang tak bertanggungjawab, ironisnya masyarakat terlanjur menyerapnya secara serta merta tanpa lebih jauh mengadakan klarifikasi… akhirnya aksi salah tudingpun menjadi hal yang tak terelakkan. Padahal bukankah sebagian dari prasangka adalah dosa ???

Buntutnya orang berjubah hendak ditanggap gara-gara menyalahi kelaziman, dan akhir-akhir ini ketidaklaziman terlanjur dialamatkan kepada “JI” …Wah tambah ruwet saja jadinya.

Ada seorang teman lain yang turut serta dalam perbincangan kami, katanya tak bisakah kita ber-islam tanpa meninggalkan ciri keindonesiaan ??? bukankah ini lebih bisa diterima ??? Ah nanti islam identik dengan Indonesia !!! kata temanku yang pertama

Lalu apakah memang islam itu identik dengan Arab ??? sanggah temanku yang kedua

Itu sih hanya masalah penampilan alias performance … jawab bang dayat mencairkan suasana, Aku pilih jalan tengah saja …”Asal menutup aurat berpenampilan bagaimanapun juga bukan masalah, OK OK saja” , itu sih hanya soal selera !?!? …

 

Gara-gara heboh bom bali beberapa tahun silam yang menyisakan trauma hingga saat ini, sampai-sampai preman-preman kampung yang tindak – tanduknya dari hari ke hari sangat meresahkan masyarakat masih bisa-bisanya membanggakan diri dengan menyebut dirinya masih lebih bermoral dari pelaku bom legian yang menewaskan ratusan nyawa. Kata temanku yang pertama sambil mengelus dada. Kembali ia mengulang pertanyaannya yang sama Fenomena apakah ini ???

Untung ada bang dayat yang dengan bijak menguraikan akar permasalahannya, menurutnya itu terjadi karena masyarakat sekarang sudah sangat pandai dalam hal timbang - menimbang, hanya sayangnya timbangan yang mereka gunakan adalah timbangan rusak …

Apa pula maksudnya ? Tanya temanku yang kedua. Bukankah menimbang-nimbang diri alias hisab adalah sunnah rasul yang dianjurkan ?

Betul !!! tapi ini lain, dengan timbangan rusak orang akan mengalami penurunan kualitas pasalnya ketika seseorang disoal mengapa kamu sholatnya bolong-bolong padahal shalat adalah amalan pokok yang awal mula di hisab di hari kiamat ? mereka menjawab dengan timbangan rusak bahwa itu sih lebih baik ketimbang yang sholatnya sekali seminggu (jum’atan saja) atau yang setahun dua kali (Shalat Id), yang sholatnya sekali seminggu masih bisa menjawab katanya itu masih lebih baik ketimbang yang sama sekali tidak sholat, Yang sama sekali tidak sholatpun masih merasa lebih baik alasannya ia tidak pernah berjudi atau mabuk-mabukan, yang ahli judipun masih merasa lebih baik ketimbang yang sholat tapi melakukan korupsi … alur ini semakin panjang dan panjang saja hingga menjadi sebuah siklus pembenaran, sebuah siklus yang terjadi ketika manusia telah menimbang dirinya menggunakan sebuah timbangan yang rusak.

 

Fenomena apakah ini ???

Begitulah realitas yang terjadi di masyarakat kita, ketika setiap orang sibuk mencari pembenaran diri dengan melemparkan kesalahan kepada orang lain, setiap orang berusaha mencuci tangan dengan tuding sana tuding sini …Mungkin inilah yang pantas disebut sebagai jagad ironi !?… Jagad goro – goro kalau dalam konteks pewayangan.
Timbangan rusak menjalar di mana – mana, ketika orang mulai bisa menerima bahwa mencari sesuatu yang haram saja susahnya minta ampun apalagi mencari sesuatu yang halal. Bahkan lebih parah lagi ada yang berpandangan bahwa tak soal menggadaikan kejujuran sepanjang tidak menggadaikan keimanan, padahal kejujuran adalah buah dari keimanan.

 

Fenomena apakah ini ???

Wallahu’alam. (oleh : Badrut Tamam Gaffas)

 

Posted by Badrut Tamam Gaffas at 18:03:28 | Permanent Link | Comments (0) |

KEMBALI PADA ALAM & KEMBALI KE PELUKAN TUHAN

Bulan ceria cemerlang di kejauhan diantara kerlap – kerlip bintang yang berhias diri layaknya bidadari – bidadari yang konon bersemayam diatas kahyangan. Suasana malam yang hening melarutkan kegundahanku, dalam kesenyapan dan kesendirian kurasakan damai mulai hadir menggantikan hilir mudik problem yang tumpang tindih dalam kekusutan pikiranku. Kini kepasrahanku sebagai seorang hamba tiba tiba menguatkan jiwaku, kejernihan batin membuatku bisa berpikir positif.

Harga sembako yang tak terkontrol menyisakan dilema bagi rakyat lemah ekonomi dan kontroversipun merebak dimana-mana, yang kami rasakan daya beli makin melemah dan untuk bisa bertahan hidup ditengah badai kami butuh perjuangan yang lebih ulet dan gigih. Dalam perhitungan logika keterpurukan sangat nyata tergambarkan di depan mata namun hidup memang bukan matematika dan akupun berharap ada sebuah keajaiban entah dari mana datangnya, namanya saja keajaiban sungguh tak layak untuk diperdebatkan.

Seorang kawan harus rela mengkandangkan motor gede kesayangannya lantaran borosnya minta ampun ditengah gonjang-ganjing BBM yang melangit, kini tunggangan barunya adalah sepeda onthel bertenaga manusia. Aku sendiri harus cermat dan super hemat dengan reka – reka kreatif agar roda tetap berputar dan dapur bisa mengepul.

Saudaraku di lereng gunung semeru mungkin tak sepanik aku dan orang – orang di kota dalam menghadapi situasi darurat ekonomi seperti saat ini, mereka terbiasa memasak dengan kayu bakar yang dikumpulkan dari ranting – ranting pepohonan yang mengering, Bagi yang memiliki kuda peliharaan mungkin tak perlu pusingkan kenaikan premium, tinggal lompat keatas pelana lalu memacu tunggangannya kemanapun ia suka, bagi kebanyakan kita di kota pasti terkesan janggal, memang di masa kekinian hal yang alami semacam itu justru menurunkan nilai gengsi yang kadang bisa jadi diatas segala – galanya, bayangkan memiliki sesuatu kini bukan lagi dinilai dari esensinya melainkan dari merk dan label yang melekat padanya. Tetangga saya kebakaran jenggot hanya lantaran komputer murah yang dibelinya ternyata bukan intel pentium melainkan celeron, AMD, Via, dst padahal kinerjanya tidak berbeda jauh sama halnya orang beli handphone yang dicari pokoknya nokia yang lainnya ogah. Inilah akar keruwetan yang berdampak pada keterbelengguan kita kepada ekonomi biaya tinggi, padahal pada masa – masa darurat ekomomi seperti saat ini yang diperlukan adalah sikap hemat, cermat dan bersahaja.

 

Back to nature , kembali ke alam seraya bersikap se-alamiah mungkin sebagaimana harmonisasi alam yang senantiasa identik dengan ekosistem yang damai dan bersahaja, itulah yang mungkin bisa kita petik dari masa darurat ekonomi seperti sekarang, manusia yang secara naluriah bersifat omnivora sangatlah relevan dengan wacana ini, adalah sebuah keberuntungan kita diciptakan untuk bisa menikmati semua potensi penciptaan di alam tidak terbatas flora tapi juga fauna, tidak terbatas hewani tetapi juga nabati. Nyatanya kini kita lebih bangga sebagai karnivora, pemakan daging daripada sebagai herbivora atau vegetarian padahal kebiasaan seperti itu sangat berat dipikul secara ekonomi, ujung-ujungnya rentan bersinggungan dengan darah tinggi, kolestrol, kanker dsb dan episode selanjutnya kitapun harus mau menyeimbangkan tubuh dengan mengkonsumsi jamu, herbal dan kembali kepada jatidiri kita sebagai manusia omnivora.

Back to GOD, Akhirnya kitapun harus bersyukur atas hakekat penciptaan kita, sebagai omnivor sesungguhnya Tuhan telahpun menyiapkan kita sebagai makhluk yang bisa tetap bisa bertahan diantara krisis dan melewati masa – masa darurat ekonomi secara lebih arif dan lebih bijaksana, bukankah ujian itu akan senantiasa datang untuk menunjukkan kepada kita sebuah titik terang !?!?…Wallahua’lam bisshawab. (oleh : Badrut Tamam Gaffas)

Posted by Badrut Tamam Gaffas at 17:57:21 | Permanent Link | Comments (0) |

WAYANG REALITAS DULU DAN SEKARANG

Budaya menunjukkan bangsa, Disadari atau tidak ternyata budaya berkontribusi besar dalam membangun karakter sebuah bangsa.

Satu diantaranya adalah seni wayang yang diadaptasi oleh para pujangga dari habitat asliya dengan melekatkan kultur dan keberagamaan masyarakat kita, selanjutnya persenyawaan budaya melahirkan cabang – cabang budaya baru dalam bentuk wayang orang, wayang kulit, wayang golek dan ragam jenis wayang lain yang hingga kini berkembang secara dinamis di bumi nusantara.

 

Wali sembilan pada eranya telah mengkaji segala dimensi yang menyangkut masyarakat jawa sebagai obyek dakwahnya, tersimpulkan kemudian bahwa seni dan budaya ibarat dua mata rantai yang tidak terpisahkan dalam pembangunan jiwa sebuah masyarakat. Kenyataan ini mengilhami Para sunan untuk mengarang dan menggubah tembang dengan filosofi religi yang berusaha dibangunkan diatasnya, seperti halnya tembang ilir – ilir. Para sunan juga terampil memainkan perangkat gamelan bahkan sunan kalijaga sangat termasyhur sebagai salah satu dalang yang piawai.

Pesan – pesan religi yang diselipkan melalui dinamisasi tembang dan syair telah menambah nilai strategis budaya tidak sempit sebatas sebagai tontonan melainkan juga sebagai tuntunan tersirat yang bila dikaji secara mendalam akan membawa pada sebuah dimensi pencerahan spiritual.

 

Pagelaran wayang dilakukan sepanjang malam hingga dini hari, itupun memiliki kandungan filosofi yang sangat berarti, telaah religi pun menyatakan betapa malam hingga dini hari merupakan periodesasi waktu keemasan, saat ilmu dengan mudah terserapkan, saat bisikan nurani menguat, saat yang tepat untuk meniti jalan – jalan spiritual terutama di seperempat malam yang terakhir.

Saat hening malam bertemu dengan bening hati maka tak ada halangan lagi untuk mendaki tingginya tangga – tangga spiritual. Menikmati pagelaran wayang pun demikian, kita dituntun untuk mendaki tingginya nilai filosofi yang mengalir lewat untaian syair dan simbolisasi karakter, ini sebenarnya juga merupakan proses kontemplasi untuk menyerap nilai tontonan dalam wujud refleksi nyata kehidupan.

Realitasnya kini, bagi banyak orang wayang hanyalah sebatas hiburan ceremonial yang digelar demi untuk menjaganya dari kepunahan, essensi filosofisnya menguap manakala pergeseran paradigma mulai terasa, kini wayang telah mengalami metamorfosa yang demikian besar, tak lagi dalam telaah filosofi yang ada hanya hiburan yang sengaja dikemas demi membuat orang puas, jadilah dalam satu paket wayang kini kita bisa menonton dagelan, campursari dan sebagainya.

Jadilah kini wayang benar – benar tontonan sebagaimana yang ditafsirkan oleh orang kebanyakan. (Oleh : Badrut Tamam Gaffas)

Posted by Badrut Tamam Gaffas at 17:50:36 | Permanent Link | Comments (0) |

SEBUAH CATATAN UNTUK NADIA MADJID

 

Paralelisme, antara ajakan dan pembelokan

 

Jaringan Islam Liberal dalam situs resminya pernah mengangkat dinamika Islam di Amerika yang dikupas secara menarik oleh nadia madjid dengan mengedepankan dan menggarisbawahi pentingnya “Paralelisme” .

Sayangnya umpan balik saya terhadap topik ini samasekali tidak mendapatkan tanggapan padahal jelas situs JIL tersebut membuka lebar – lebar komentar pubik atas topik – topik yang diketengahkan, tapi bisa jadi komentar saya dinilai tidak sejalan atau bahkan disensor dengan dalih bisa menuai pengaruh yang tidak semestinya diharapkan atas tulisan putri cendekiawan muslim tersebut.

 

Komentar saya atas kupasan Paralelisme Nadia Madjid adalah sebagai berikut :

Perbedaan adalah rahmat, begitulah pernyataan bijak sebagai ide besar yang senantiasa menggelinding dan bergulir untuk meredakan perbedaan yang tak mungkin dipersatukan.

Paralelisme yang disuarakan nadia cukup positif dan produktif untuk membuka dialog antara Islam dan Non islam dan bahkan menjembatani Diferensiasi pemikiran antara Timur dan Barat. Namun perlu digarisbawahi betapapun paralelisme itu sesuatu yang positif tetap ada kerangka dan rambu – rambu yang tak begitu saja bisa terabaikan. Mempersamakan Islam dengan Ajaran dan Paham apapun juga atas kesamaan cita – cita, nilai – nilai humanisme dan demokrasi, sangat terbuka untuk dilakukan dimanapun, kapanpun oleh siapapun. Paralelisme dalam kerangka ini justru bisa membangun citra Islam lebih visioner dan reolusioner. Sementara khusus wilayah Aqida dan Sharia sedapat mungkin kita mempersempit ruang paralelisasi, inilah sebuah kenyataan perbedaan yang semestinya kita taklukkan dengan menganalisa dan mengkomparasi secara obyektif hingga kita akhirnya menuai kemantapan dalam beragama dan berkeyakinan.

 

Dalam catatan saya, paralelisme buta yang mempersamakan Islam dan lainnya justru mengingkari adanya perbedaan itu sendiri padahal dalam hakikat demokrasi esensi perbedaan itulah yang dikelola dan dikembangkan agar mencapai kesepahaman dan toleransi. Islam tetaplah tidak sama dengan agama yang lain, karena Islam begitulah adanya namun Islam Setara dan Sejajar kedudukannya sebagai agama dalam dinamika berbangsa, tidak lebih tinggi atau bahkan lebih rendah.

Paralelisasi buta justru bisa bisa disalah tafsirkan, bisa di biaskan sehingga menjadi kontraproduktif. Bukankah Ironi, ketika kita berupaya mengajak orang mengikuti sebuah jalan justru mereka menyimpang, berbelok mencari jalan yang lain karena dalam sudut pandang paralelisme semua jalan adalah sama. Wallahu a’lam (Oleh : Badrut Tamam Gaffas)

Posted by Badrut Tamam Gaffas at 17:46:50 | Permanent Link | Comments (0) |

YANG MENGGELEMBUNG DAN YANG PECAH

2009 masih lama namun seolah semua tidak ingin kehilangan momentum, semua berlomba – lomba memasang kuda – kuda untuk bisa melaju tak terbendung pada saatnya. Ada yang benar – benar membentuk wadah partai baru, ada yang memperbaharui partai lama dengan wajah baru dan adapula yang serius menguatkan kedudukannya agar kedepan nanti tidak tergoyahkan.

 

Partai Islam di Persimpangan

Mengamati geliat Partai Islam kita dibuat bertanya – tanya, sebagai representasi Ummat Islam yang mayoritas ternyata Partai Islam belum mampu menunjukkan kebesarannya. Dalam dua kali Pemilu raihan suara yang didapatkan masih jauh tertinggal dari pesaing – pesaingnya yang berideologi nasional.

Kecenderungan ini memunculkan rumors bahwa Ideologi Islam dan platform agamis kurang Populis untuk dibawa dalam wilayah politik terlebih mengingat potensinya yang lebih rentan terhadap hantaman isu SARA dibandingkan dengan partai yang memilih beraliran nasional.

Kenyataan dimasa lalu ternyata justru berlaku sebaliknya, Partai Islam yang direpresentasikan oleh Masyumi begitu kuat dan mendominasi panggung perpolitikan di negeri ini pada dekade 50-an. Kalaupun Masyumi akhirnya kandas itu lantaran konspirasi politik orde lama yang mengusung nasakom dan menjadikan masyumi tergusur secara politis sebagai the common enemy, masyumipun terpinggirkan sebagai kekuatan oposan sebelum akhirnya memilih jalannya sendiri yakni membubarkan diri.

 

Belenggu itu bernama Democrazy

Ada sebuah benang merah dari fenomena melemahnya bargaining position ummat Islam secara politik. Pasca runtuhnya Masyumi sebagai representasi ummat Islam dan representasi golongan oposisi pada zamannya maka ummat Islam mengalami saluran yang tersumbat, aspirasi – aspirasi politik mengalami kebuntuan, tidak lagi dapat disuarakan secara lantang dan vokal. Demokrasi tanpa kekuatan penyeimbang (oposisi) makin menunjukkan gejala perubahan bentuk menjadi democrazy.

Selanjutnya secara garis besar kekuatan Islam terus meluruh dalam Kancah Perpolitikan Negeri ini karena berada dalam cengkeraman rezim kekuasaan yang teramat kuat. Dalam belenggu hegemoni semacam ini berkembanglah Jargon – Jargon seperti yang kita kenal sekarang yaitu Islam Yes Politik No.

Jadilah, Politik Islam Di-aborsi selama 4 dekade dan untuk membangkitkannya kembali dari tidur panjang tidaklah mudah terlebih banyak diantara Politikus – Politikus yang di masa lalu berlatar belakang pergerakan Islam merasa lebih leluasa memendam idealismenya, mereka seolah menari – nari mengikuti tabuhan genderang kekuasaan.

 

Keyakinan yang terkoyak

Di masa reformasi ini Meski kebebasan mulai dapat dirasakan namun tetap saja keyakinan masyarakat kepada saluran politik belum sepenuhnya pulih, Ketika masyarakat harus memilih kebanyakan mereka lebih cenderung mengambil jalan tengah, enggan condong ke kanan yakni kepada aliran politik bernafaskan agama, tidak pula condong kepada paham sosialisme dan komunisme yang kekiri – kirian.

Fenomena ini perlu dicermati oleh Partai yang sejak awal secara khusus dan fokus memang membidik ummat Islam sebagai konstituennya, Perubahan minat dan orientasi masyarakat dalam menyalurkan aspirasi politiknya masih sangat terbuka, oleh karenanya eksistensi Partai bersegmen massa Islam perlu makin dikibarkan, suara – suara lantang dan vokal membawa aspirasi ummat harus didengung – dengungkan atas dasar berani karena benar, atas dasar amanat cita – cita untuk mempersembahkan yang terbaik bagi ummat dan bangsa, atas dasar memperjuangkan kompensasi yang adil bagi ummat yang merupakan bagian terbesar di negeri ini.

 

Islam Yes Politik Yes

Kebhinekaan masyarakat kita tidak memungkinkan untuk diwadahi dalam satu wadah dan satu ideologi saja karenanya penolakan dan nada – nada sumbang atas berdirinya partai – partai berideologikan agama merupakan pengingkaran atas fakta kemajemukan bangsa ini. Sedikitnya tabulasi angka yang sementara ini diraih oleh partai – partai berideologikan agama samasekali bukan merupakan dalil pembenar yang kuat untuk membekukannya

 

Kembalinya kesadaran berpolitik ummat Islam seraya mengusung jargon Islam Yes Politik Yes merupakan pertanda positif bagi pembentukan demokrasi yang lebih berkeadilan di negeri ini.

Yang tak kalah penting bahwa dalam menjalankan amanat kekuasaan, integritas moral menjadi faktor yang menentukan dan karenanya jiwa beragama harus senantiasa hadir dan dihadirkan dalam setiap putaran roda – roda kekuasaan.

 

Yang Menggelembung dan Yang Pecah

Dalam dinamika berpartai, ada partai yang mampu menjaga konsistensi idealismenya sehingga banyak diminati dan meraih dukungan yang meluas, ada partai yang larut dalam tarikan - tarikan konflik internal sehingga tak lagi mampu mempertahankan kebesarannya, ada partai yang sedang beranjak menaik popularitasnya sedikit demi sedikit namun ada pula yang menggelembung dengan cepatnya mementahkan anggapan serta mematahkan perkiraan banyak orang dan pengamat.

Ada kalanya sebuah partai yang di masa sekarang kekuatannya bagai tak tergoyahkan namun suatu saat nanti justru menjadi pecah dan tak lagi berdaya.

Ada juga saatnya dimana partai yang di masa sekarang tengah terpuruk, berulang kali jatuh bangun dan sama sekali tak diperhitungkan kekuatannya namun bisa jadi pada saatnya nanti justru bisa menggelembung, menjadi besar dan berjaya.

 

Roda Politik dan Peta kekuasaan akan senantiasa bergerak dan berubah, Fenomena “Yang menggelembung dan Yang Pecah” adalah sebuah dinamika yang semestinya bisa kita sikapi secara cermat dan bijaksana. (Ditulis oleh : Badrut Tamam Gaffas)

Posted by Badrut Tamam Gaffas at 17:43:20 | Permanent Link | Comments (3) |

Monday, September 10, 2007

JALAN ISTIQOMAH SANG LEGENDA

BUYA HAMKA adalah potret ulama penuh kharisma, politisi sejati dan pujangga terkemuka yang memilih berkiprah dalam perjuangan pembentukan karakter ummat dan bangsa.

Buya Hamka bukan sosok ulama istana, beliau adalah ulama pejuang yang berhasil menjadi peletak dasar kebangkitan komunitas islam modern atau kaum gedongan di ibukota lewat icon al azhar yang pada akhirnya berhasil pula melebarkan sayap sebagai lembaga pendidikan modernis dan agamis.

Sebagai politisi buya hamka patut menjadi teladan, Pandangan dan keyakinannya senantiasa lurus - lurus saja memperjuangkan aspirasi ummat, beliau bersama tokoh-tokoh Masyumi lainnya adalah para pejuang Islam yang gigih dalam mengajukan konsep-konsep Islam, secara ilmiah dan argumentatif. Tetapi, juga konsisten dalam memegang teguh aturan main secara konstitusional. Ketika perjuangan melalui jalur partai politik terganjal, buya hamka dan para tokoh Masyumi memilih hijrah dengan menempuh jalur dakwah di masyarakat, masjid, pesantren, dan perguruan tinggi. Karena sesungguhnya dakwah adalah laksana air yang mengalir, tidak boleh berhenti, dan tidak bisa dibendung.

Sikap Istiqomah menjadi garda terdepan walau harus menghadapi tangan - tangan besi kekuasaan yang terbukti berhasil menjebloskannya ke penjara.

Penjara badaniah tak sekalipun kuasa memenjarakan kebesaran jiwa seorang hamka yang tetap merdeka, sejarah pula yang akhirnya mencatat bahwa dari dalam penjara lahir karya terbesar buya hamka yang membuatnya dikenal hingga ke mancanegara, Tafsir Al Azhar adalah satu - satunya Tafsir Al Qur'an yang ditulis oleh ulama melayu dengan gaya bahasa yang khas dan mudah dicerna.

Bukan Sekedar itu karya sastra buah penanya tak kalah hebatnya, beberapa novelnya seperti Dibawah Lindungan Ka'bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wickj , Merantau ke Deli dan banyak karya - karya beliau ternyata tidak hanya dipublikasikan oleh penerbit lokal sekelas Balai Pustaka melainkan juga diterbitkan di beberapa negara asia tenggara bahkan di release juga diberbagai situs, blog dan media informasi lainnya.

Pendek kata karya besar buya hamka saat ini telah mendunia meski ironisnya di negeri sendiri sudah jarang generasi muda yang mengenal sosoknya yang fenomenal.

 

Sikap Istiqomah yang dicontohkan buya hamka bisa menjadi inspirasi bagi kita, beliau bukan alumni perguruan tinggi manapun namun banyak sekali kalangan yang menuliskan di depan namanya gelar atau title Prof Dr, siapa yang bakal menyangka jika seorang yang pada awalnya belajar secara otodidak belakangan justru banyak di berikan gelar doctor honoris causa oleh banyak universitas terkemuka.

Karya - karya buya hamka terutama di bidang sastra memang telah melambungkan nama bangsa, mengharumkan nusantara hingga ke manca negara.

 

Simaklah petikan puisi yang dituliskannya secara khusus untuk Pak Natsir, Puisi yang ditulis Buya Hamka pada tanggal 13 November 1957 setelah mendengar uraian Pidato Natsir yang dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar negara RI.

Kepada Saudaraku M. Natsir

Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa

Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi


Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi

Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu .......!

Jalan Istiqomah yang dilalui dalam setiap jejak pergerakan dan perjuangan buya hamka untuk memajukan kaumnya merupakan rintisan yang seharusnya bisa diteruskan dari generasi ke genarasi. Benarkah ?!?! (Updated by Badrut Tamam Gaffas)

Posted by Badrut Tamam Gaffas at 09:37:15 | Permanent Link | Comments (0) |